"apa yang aku lakukan selarut ini?"
pertanyaan yang selalu muncul saat mata semakin layu memandang sebuah persegi panjang yang memendarkan cahaya
jam dinding perak dengan aksesoris-aksesoris pelengkap berwarna hitam menunjuk angka 2 dan 12
aku masih disini
diatas kursi statis yang selalu diam senyap
sayup-sayup terdengar pekikan udara hampa beradu dengan kipas angin yang sepertinya ingin berteriak "aku capek menemanimu"
pertanyaan yang selalu muncul saat mata semakin layu memandang sebuah persegi panjang yang memendarkan cahaya
jam dinding perak dengan aksesoris-aksesoris pelengkap berwarna hitam menunjuk angka 2 dan 12
aku masih disini
diatas kursi statis yang selalu diam senyap
sayup-sayup terdengar pekikan udara hampa beradu dengan kipas angin yang sepertinya ingin berteriak "aku capek menemanimu"
jari-jari masih berlari diatas tuts keyboard
menulis apa yang bisa dipikirkan
memvisualisasikan apa yang kurasa dengan baris huruf dan kata
raungan angin tetap bergema di telinga
tak cukup bisa tuk membuyarkan konsentrasiku
dengan rasa dingin yang semakin menggerayangi tubuh, aku tetap disini, mengawasi gerak jari memainkan perannya
"tak lagi belasan, saatnya untuk apa?"
aku terdiam..memutar otak mencari jawaban
mencoba merangkai memori dan menyatukannya dalam sebuah gambar bergerak di dalam pikiran
mengingat video kehidupan bernama masa lalu
tetap tak kutemukan jawaban itu
terlalu masa bodoh untuk urusan seperti ini
hingga tak sadar jika detik waktu telah bergerak cepat walau tak semelesat cahaya
terlalu masa bodoh untuk urusan seperti ini
hingga tak sadar jika detik waktu telah bergerak cepat walau tak semelesat cahaya
berpikir..berpikir..berpikir..
tak berguna!
cuma kosong yang ku dapat
tak berguna!
cuma kosong yang ku dapat
hidupku bukanlah air dengan segala anomalinya
tak bisa hanya mengalir dan berharap mencapai tujuan dengan sekejap
"kamu yang disana, jangan cuma diam dan memandangiku!"
"bantu aku berpikir!"
konyol,,aku menuntut benda mati berbentuk monster-monster kecil untuk menanggapi
tak ada suara, angin di sekitarku tak bergerak,, sumber angin telah kuajari untuk mencampakkanku
bukan karena kekecewaan pada mereka yang membisu, lebih karena rasa dingin telah menjalar masuk
bukan karena kekecewaan pada mereka yang membisu, lebih karena rasa dingin telah menjalar masuk
"ya sudahlah, lihat saja besok"
kuteguk beberapa bulir air dan berusaha mengalihkan pandangan dari cahaya di depanku
mematikan fungsi otak tuk sejenak, menikmati alam tanpa batas bernama mimpi
